Konflik Suporter

AKAR KONFLIK SLEMANIA DAN BRAJAMUSTI DALAM PERSEPAKBOLAAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

By:

Febriana Muryanto[1]

 

ABSTRACT

Conflict within the soccer is a conflict frequently happens in Indonesia. This functional conflict is not a problem when the destructive conflict does not exist. However, the functional conflict has increased to the destructive conflict between supporters in Indonesia, especially in the resident of Yogyakarta. The conflict between Slemania and Brajamusti is an example of conflict happens within the supporters. It has happened since 2001. Therefore, this study aims to describe the factors of the emergence of the conflict, kinds of the conflict, and the effects of the conflict within the supporters, either Slemania or Brajamusti.

This study is a qualitative descriptive which used the primary data resource. The informants and respondents were chosen by using the key person technique with the snowball sampling. The secondary data resource was collected by using documentation and references carried by the internet and print media, and the official record. Data in this study were collected by moderate observation, semi-structured interview, documentation and the official record. In addition, the sampling technique was the purposive sampling. The validity of the data utilized the observation technique, triangulation, intensive monitoring and discussion with the partners. In addition, the data were analyzed by using Huberman and Miles interactive analysis.

The result of this study showed that the conflict between Slemania and Brajamusti has happened since 2001. The factors emerge by (1) provocateurs around the supporters. Because there are a lot of members either from Slemania or Brajamusti, they have impacted on the difficulty of control. Moreover, the security guard repressive behavior was also the additional of its factor. (2) The level of team, both Slemania and Brajamusti are the legal supporters of PSS and PSIM. The conflict happens among them is related to the increases and decreases of both team levels. It appears the animal power of the supporters. Moreover, when the result is not as expected, the disappointment and worry will approach them. (3) Derbi (two or more team in a region), Slemania and Brajamusti are almost in same level. Therefore, both of these big supporter organizations physically often meet. (4) Performance of the competition. The kinds of conflicts are songs which containing racism, fighting, and threats. Moreover, the effects of these conflicts are injury, phobia, finance, closed relationship in a team (ashobiyah), and accommodation.

Keywords: Supporters, Slemania, Brajamusti, Conflict

[1] Dosen Jurusan Sosiologi Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Kartika Bangsa Yogyakarta.

  1. Pendahuluan

Sepakbola adalah olahraga yang mempunyai karakteristik tersendiri, yakni dengan adanya suporter (kelompok pendukung). Pada dasarnya kompetisi adalah sebuah bentuk dari pada konflik.Kompetisi menunjukan konflik atas kontrol sumber daya atau keuntungan yang dikehendaki pihak lain walaupun kekerasan fisik tidak terlibat (Abercrombie¸Hill dan Turner, 2010: 105). Kompetisi tertata adalah konflik damai atau dalam bahasa Coser disebut dengan konflik fungsional. Konflik tidak perlu dipermasalahkan jika konflik tersebut tidak menimbulkan berbagai masalah, namun secara empiris, konflik antara kesebelasan sepakbola merambah ke konflik destruktif antar suporter. Kerusuhan antar suporter merupakan contoh kongret terjadinya konflik yang destruktif di dunia persepakbolaan. Fanatisme suporter terhadap kesebelasan ini menimbulkan berbagai gesekan kepentingan antar suporter. Gesekan-gesekan ini membawa konsekuensi lahirnya keributan (tawuran) antar suporter.

Konflik antar suporter ini sangat berbahaya, karena konflik ini melibatkan banyak anggota dan bersifat horizontal. Kerusuhan antar suporter cenderung meningkat dan semakin anarkis, antara lain bentrok antara  suporter Persita Tangerang dan Pesitara Jakarta Utara, yang kemudian merambah bentrok dengan aparat keamanan yang sedang bertugas. Saling lempar batu dan adu fisik pun tidak dapat dihindari (Kabar Pagi, TvOne, pukul 05.12 WIB).

 Tabel 1

Konflik destruktif antar suporter sepakbola pada tahun 2005-2008

No Tanggal Kejadian
1 25 April 2005 Persekapas Pasuruan dan Arema Malang.
2 14 Juli 2005 Aremania dan The Jak.
3 1 Agustus 2005 Persikaba vr PSM Makasar
4 8 Agustus 2005 Persigo Gorontalo dan Persiwa Wamena
5 9 Agustus 2005 Aremania dan Persikabpas
6 4 September 2005 The Jak dan Viking
7 20 September 2005 The Jak dan Bonek
8 25 September 2005 The Jak dan Persipura Mania
9 13 Maret 2006 Jetmania dan Panser Biru
10 4 September 2006 Bonek dan Aremania
11 14 Maret 2007 Benteng mania dan The Jak
12 23 Desember 2007 LA Viola dan Slemania
13 16 Januari 2008 Persiwa Mania dan Aremania
14 6 Februari 2008 Persipura dan The Jak
15 17 November 2007 Slemania dan Brajamusti
16 13 September 2008 Aremania dan PKT Bontang
17 11 Oktober 2008 Slemania dan Brajamusti

Sumber : Suyatna ”Suporter Sepakbola Indonesia Tanpa Anarkis, Mungkinkah?” (2007: 6), http://www.ongisnade.net/web/2008/09/14/review-foto-pertandingan-arema-malang-vs-pkt-botang, diakses tanggal, 13 desember 2008 jam 00.04 WIB, dan http://koranjogja.com/web/index.php?option= com, diakses tanggal, 08 januari 2009 jam 22.31 WIB.

Konflik destruktif mempunyai relevansi dengan derbi (beberapa keselasan yang ada dalam satu wilayah/daerah). Salah satunya adalah derbi Yogyakarta. Derbi Yogyakarta melibatkan dua kelompok suporter besar, yakni Slemania (PSS) dan Brajamusti (PSIM). Konflik kedua suporter ini berlangsung sejak tahun 2001 hingga sekarang. Berbagai pemukulan, penghadangan, intimidasi serta bentuk konflik lain sering berlangsung antara kedua suporter tersebut.

  1. Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan key person dan Snow ball Sampling serta di dukung dengan official record. Proses pengambilan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Jumlah responden dalam penelitian ini ada 18 responden, yang meliputi pengurus dan anggota Slemania dan Brajamusti.

  1. Persepakbolaan di Daerah Istimewa Yogyakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah otonom yang terdiri dari satu kotamadya (Yogyakarta) dan empat kabupaten (Sleman, Bantul, Kulon Progo dan Gunung Kidul). Dari kelima daerah wilayah DIY tersebut, kesebelasan tiga diantaranya sudah berhasil masuk ke kompetisi bergengsi di Indonesia, yakni Liga Utama dan ISL (Indonesia Super Leagu). Saat ini dari ketiga kesebelasan tersebut yang mempunyai catatan konflik destrktuf para suporternya adalah antara PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta. Kedua kesebelasan ini adalah kesebelasan derbi, yang dikenal dengan derbi Yogyakarta. Dapat dikatakan, bahwa antara Slemania dan Brajamusti adalah “saudara kandung” yang saat ini tidak “akur”.

PSIM merupakan kesebelasan tertua yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, bersama Mataram Indosemen. PSIM berdiri pada 5 September 1929 di Yogyakarta. Kesebelasan ini mendapat predikat kesebelasan tertua di Indonesia. PSIM mempunyai adik baru kala itu tahun 1976 yang lahir di Sleman dengan nama PSS (Sleman). Keberadaan PSS Sleman diikuti pula oleh keberadaan Persiba, yakni sebuah kesebelasan sepakbola yang berada di Bantul, yang masih satu wilayah dengan PSIM dan PSS, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta. Keberadaan ketiga kesebelasan ini sering disebut dengan derby atau tim dalam satu kedaerahan. Perkembangan persepakbolaan di Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai dua tim yang dalam perjalanannya mempunyai hubungan erat dengan adanya konflik destruktif oleh para suporternya, yakni PSS (Slemania) dan PSIM (Brajamusti).

Konflik dan kompetisi mempunyai hubungan yang saling terkait, tetapi merupakan dua fenomena yang berbeda. Kompetisi atau persaingan berfokus pada pencapaian tujuan spesifik melawan pesaing, sedangkan konflik selalu tidak hanya selalu dimaksudkan untuk mendapatkan hal-hal yang diinginkan, tetapi juga untuk merugikan atau mengeliminasi aktor yang menghalangi jalan (Soekanto, 1999: 84). Semakin ketatnya kompetisi membuat Slemania dan Brajamusti memutar otak untuk lebih kreatif dalam memdukung kesebelasan kesayangannya, tetapi demikian ini juga menimbulkan konflik antara Slemania dan Brajamusti, karena sosiasi seorang suporter selalu menginginkan kesebelasan kesayangannya memang, dan ini akan berbanding terbalik dengan kesebelasan lawan. Simmel menyatakan, “The actually dissociating elements are the cause of the conflik-hatred and envy, want and desire” (Unsur-unsur yang sesungguhnya dari disasosiasi adalah sebab-sebab konflik-kebencian dan kecemburuan, keinginan, dan nafsu) (Susan, 2010: 47).

  1. Konflik Saudara

Slemania merupakan suporter resmi dari PSS Sleman dengan jumlah anggota mencapai 27.000 anggota, sedang Brajamusti merupakan suporter resmi dari PSIM Yogyakarta dengan jumlah anggota mencapai 7000 anggota. Slemania lahir pada 22 Desember 2000, dan Brajamusti lahir pada 15 Februari 2003, walaupun Brajamusti berdiri lebih muda, namun Brajamusti merupakan suatu organisasi suporter yang lahir dari PTLM (Paguyuban Tresno Laskar Mataram) yang lebih dulu lahir dari Slemania. Secara analogi, dapat dikatakan bahwa Slemania merupakan saudara muda dari Brajamusti.

Status saudara antara Slemania dan Brajamusti tidak menghilangkan potensi konflik yang hadir diantara mereka. Slemania dan Brajamusti adalah suporter derbi yang mempunyai rivalitas dan gengsi tersendiri antara mereka. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan konflik yang melibatkan dua organisasi yang mempunyai ribuan anggota.

Fenomena konflik antara Slemania dan Brajamusti merupakan fenomena yang terjadi antara  dua kelompok sosial yang mempunyai kepentingan yang berbeda. Disatu pihak, sangat ingin tim kesayangannya menang, tapi dilain pihak kelompok lainnya juga meninginkan hal yang sama pula. Perbedaan kepentingan ini membuat konflik tersendiri bagi mereka. Sosiasi-sosiasi yang timbul dalam masyarakat menimbulkan asosiasi-asosiasi tertentu, seperti dalam contoh kali ini adalah asosiasi berupa kelompok suporter Slemania dan Brajamusti. Sosiasi-sosiasi yang teraktualisasikan lewat kelompok suporter ini membentuk disasosiasi antara kedua kelompok. Hingga akhirnya terjadi konflik permanen antara kedua belah pihak ini (Slemania dan Brajamusti).

Pernyataan ini sejalan dengan pernyataan Simmel, tentang kelompok sosial; yang mengatakan bahwa sosiasi melihat pada proses interaksi sosial sebagai cara menciptakan kesatuan. Fenomena konflik jika dipandang sebagai proses sosiasi merupakan perubahan wujud dari sosiasi ke asosiasi, yaitu para individu yang berkumpul sebagai kesatuan masyarakat, yang didalamnya mempunyai sosiasi yang saling bermusuhan (Susan, 2010: 47).

Selayaknya saudara kandung, Slemania dan Brajamusti saat ini sedang mengalami hubungan yang kurang baik. Secara fisik Slemania dan Brajamusti berdekatan, oleh karena itu konflik pun kerap kali terjadi.  Derby antara PSS dan PSIM menyebabkan rivalitas dan persaingan gengsi tersendiri bagi suporternya. Hal ini menyebabkan sosiasi para suporter seakan dihambat oleh sosiasi suporter lainnya, jadi dapat dikatakan Slemania dan Brajamusti sedang mengalami fenomena reciprocal antagonistic (permusuhan yang timbal balik), menurut teorinya Simmel. Gambaran diatas cukup menjadi dasar sebagai dasar pemikiran konflik antara Slemania dan Brajamusti. Slemania secara formal mempunyai daerah di Kabupaten Sleman, dan Brajamusti mempunyai daerah di Kotamadya Yogyakarta.

  1. Grass Roots sebagai pelaku konflik destruktif

Konflik antara Slemania dan Brajamusti terjadi secara destruktif di grass roots (akar rumput) kata grass roots disini mewakili para anggota-anggota baik Slemania dan Brajamusti. Konflik juga terjadi pada pengurus, tetapi konflik itu bersifat fungsional karena kepentingan organisasi. Konflik fungsional di kepengurusan Slemania dan Brajamusti pun tidak bersifat destruktif dan lebih dapat di kontrol karena kebanyakan pengurus Slemania dan Brajamusti adalah orang-orang yang terpilih dan mempunyai kualitas secara organisasi. Konflik antara Slemania dan Brajamusti telah terjadi berkali-kali. Konflik kerap terjadi di daerah-daerah yang rawan sekali dengan konflik, antara lain di daerah perbatasan-perbatasan, contohnya di daerah barat (Godean), jalan Wates (Kulon Progo). Konflik ini juga terjadi bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya (Internet).

  1. Rute Konflik Slemania dan Brajamusti

Konflik antara Slemania dan Brajamusti untuk pertama kali terjadi pada tahun 2001, di Stadion Tradadi, Sleman. Pada saat itu terjadi bentrok antara Slemania dan PTLM (embrio Brajamusti). PTLM pada saat itu diusir oleh Slemania kemudian disudutkan dan dilempari. Berawal dari peristiwa ini, akhirnya menjadi catatan tersendiri dari fenomena konflik Slemania dan Brajamusti.

Kemudian konflik terjadi lagi di Stadion Maguwoharjo pada 17 November 2007, pada saat itu sedang dilaksanakan pertandingan antara PSS melawan PSIM, pemicunya saling ejek antar suporter, saling lempar di jalan, bahkan pertandingan belum dimulai pun, Slemania dan Brajamusti sudah saling lempar. Dampak dari pada kejadian ini adalah area luar stadion rusak, suporter mengalami luka-luka. Selain itu, konflik juga terjadi ketika Brajamusti sedang perjalanan pulang, di ring road utara terjadi penyegatan oleh Slemania, hal ini merupakan lanjutan dari pada konflik di Maguwo sebelumnya.

Konflik destruktif terulang lagi di Stadion Maguwoharjo pada kompetisi Divisi Utama, 11 Oktober 2008. Pada saat itu PSS melawan PSIM. Penyebabnya pada saat itu Brajamusti tidak bisa menerima hasil pertandingan, lalu Brajamusti membakar Bendera Slemania, dan Slemania dan Brajamusti saling ejek. Bentrokan dan keributan antar suporter tidak dapat dihindari lagi. Kedua suporter saling ejek dan lempar batu serta botol air mineral. Bentrokan meluas sampai di luar lapangan. Akibatnya Stadion Maguwoharjo rusak, kaca-kaca pecah, toilet rusak. Coret-coretan dimana-mana. Kejadian ini merugikan pihak stadion hingga 24 juta.

Konflik selanjutnya terjadi di Mandala Krida, pada 12 Februari 2010. Pada saat itu pertandingan antara PSIM melawan PSS. Awalnya pertandingan berjalan baik sampai menit ke-65. Setelah itu terjadi pelemparan dari Brajamusti ke dalam lapangan. Peristiwa itu diperburuk oleh tindakan represif aparat keamanan terhadap suporter.

Dampak dari peristiwa 12 Februari 2010, akhirnya laga dihentikan dan dilanjutkan di Lapangan AAU beberapa hari kedepan. Pada saat itu laga usiran dan tanpa penonton. Namun, Brajamusti tetap mendampingi PSIM untuk bertanding walaupun tidak dapat masuk ke lapangan. Pertandingan tersebut dimenangkan oleh PSIM dan kemudian Brajamusti konvoi untuk merayakan kemenangan. Sesampainya di Jalan Solo-Yogyakarta, terjadi penghadangan oleh Slemania, akhirnya kerusuhan pecah, dan dampak dari pada peristiwa ini, 3 (tiga) korban serius dari Brajamusti, hidung patah, ada luka sayatan, perut sobek, kepala yang ditusuk dengan pecahan botol.

Pada tanggal 24 November 2010, terjadi pula peristiwa penghadangan dari Slemania terhadap Brajamusti, ketika itu terjadi di Jalan Godean, Sleman. Dampak dari peristiwa ini hancurnya bus serta luka fisik yang dialami oleh Brajamusti. Kemudian 6 Januari 2011, kembali penghadangan Slemania terhadap Brajamusti di Jalan Mlati, Sleman. Dari kedua penghadangan ini berbuntut dendam dari Brajamusti terhadap Slemania.

Kemudian 8 Januari 2011, konflik terjadi jalan-jalan, tepatnya ketika Slemania bertanding ke Bantul, kemudian Slemania di lempari oleh Brajamusti di sekitar Janti dan jalan Mlangi, korban mencapai 11 orang yang kebanyakan luka di kepala karena lemparan batu. Peristiwa ini merupakan bentuk balas bendam dari Brajamusti terhadap Slemania.

Tabel 2

Kejadian Konflik Slemania dan Brajamusti

Waktu Penyebab dan ilustrasi kejadian Dampak
Tridadi, Tahun 2001, Divisi Utama Pada saat itu terjadi bentrok antara Slemania dan PTLM (cikal bakal Brajamusti). PTLM di usir oleh Slemania, PTLM dipojokan dan dilempari Luka-luka memar dan bocor
Maguwoharjo, 17 November 2007. Laga amal Gempa DIY Pada saat itu pertandingan antara PSS dan PSIM, pemicunya saling ejek antar pemain, saling lempar, dijalan pun saling lempar, pertandingan belum mulai sudah rusuh antara Slemania dan Brajamusti di luar lapangan. Saling ejek antar suporter Area luar stadion rusak, suporter mengalami luka-luka terutama dibagian kepala.
11 Oktober 2008, Maguwoharjo, Divisi Utama PSS melawan PSIM, kala itu suporter tidak bisa PSIM tidak bisa menerima hasil pertandingan, lalu suporter membakar bendera Slemania, dan suporter kedua kesebelasan saling ejek. Bentrokan dan keributan antar suporter kedua tim tidak dapat dielakkan lagi. Kedua belah suporter saling lempar batu. dan botol air mineral. Bentrokan meluas hingga keluar stadion beberapa saat setelah pertandingan berakhir. Akibat dari bentrokan ini rusak stadion Maguwoharjo, kaca-kaca pecah, toilet rusak dan pecah. Coret-coretan dimana-mana hingga pihak Maguwoharjo merugi 24 Juta.
12 Februari 2010, Mandala Krida Pada saat itu PSIM melawan PSS, awalnya pertandingan baik-baik saja, kemudia masuk ke menit ke 65 terjadi pelemparan dari Brajamusti terhadap pemain. Walaupun sebelum itu sudah terjadi pelemparan terhadap Slemania, akhirnya saling ejek. Luka fisik
12 Februari 2011 Penghadangan Slemania terhadap Brajamusti Luka fisik
8 januari 2011, di jalan, Divisi Utama tahun 2010/2011 Saat Slemania datang ke Bantul untuk mendukung PSS, dijalan terjadi pelemparan terhadap Slemania, disekitar jalan Mlangi, terus perbatan ring road utara, sampai Janti. Kepala bocor (luka fisik)
24 November 2010, di Jalan, Divisi Utama 2010/2011 Pada waktu itu laga tour pertama PSIM, ketika rombongan Brajamusti dan suporter PSIM lainnya berangkat lewat Godean dilempari, di jalan dipasang paku, di daerah Mlati juga dilempari. Penyebab resiprocal antagonistic Kaca bus hancur, korban suporter luka di kepala.
6 januari 2011, di jalan, Divisi Utama 2010/2011 Saat itu Brajamusti dan suporter PSIM lain sedang berangkat mendukung PSIM bertanding dengan PPSM Magelang Sakti, saat di jalan terjadi pelemparan, di sekitar perbatasan, Yogyakarta dan Sleman. Korban bocor kepala dan bus kaca hancur

Sumber: Olah Data Sekunder dan Primer

  1. Faktor Penyebab Konflik Slemania dan Brajamusti

Ibn Khaldun berpendapat bahwa, konflik merupakan sesuatu yang tidak berdiri sendiri (Affandi, 2004:73), artinya konflik mempunyai sifat kausalitas disampingnya. Begitu pula dengan konflik yang dialami oleh Slemania dan Brajamusti. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  1. Provokator dalam suporter

Slemania dan Brajamusti merupakan organisasi besar dan beranggotakan ribuan. Tercatat Slemania mempunyai anggota sekitar 12.000 dan Brajamusti sekitar 7.000. Jumlah yang begitu besar ini membuat kontrol sangat sulit dilakukan. Kontrol ini biasa dilakukan oleh Departemen Keamanan dari kedua belah suporter, serta aparat keamanan. Sering kali aparat keamanan yang bertindak sebagai pengaman jalannya pertandingan, justru menjadi penyulut terjadinya konflik antara Slemania dan Brajamusti. Hal ini disebabkan karena tindakan represif dari aparat terhadap suporter. Kondisi ini berdampak pada emosi suporter. Emosi ini biasa diluapkan kepada suporter musuh. Seperti yang terjadi pada kerusuhan pada 12 Februari 2010 di Mandala Krida, Yogyakarta.

  1. Strata Tim

Sejarah konflik Slemania dan Brajamusti dimulai ketika tahun 2001, pada saat itu PSS naik ke Divisi Utama dan PSIM terdegradasi ke Divisi I. Sebagai tim yang lebih senior, PSIM pada saat itu secara prestasi kalah dengan PSS. Hal itu memunculkan gengsi dan kecemburuan sosial tersendiri bagi kedua kesebelasan.

  1. Derby Yogyakarta

Terkait dengan Slemania dan Brajamusti, mereka adalah suporter sejati dari PSS dan PSIM yang berada dalam satu kewilayahan Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta berada di pusat DIY, dan di sekelilingnya terdapat Sleman dan Bantul. Kenyataan ini memberi peluang pertemuan kedua belah suporter. Jika PSS sedang bertanding ke Bantul misal, pasti akan melewati daerah Yogyakarta, jika PSIM bertanding ke Magelang misal, pasti akan melewati daerah Sleman. Keadaan ini juga memicu terjadinya konflik antara Slemania dan Brajamusti. Selain itu, pertandingan derby penuh dengan gengsi dan emosi, sedikit kesalahan saja dapat menyebabkan bentrokan besar, ditambah lagi dari kedua kesebelasan (PSS dan PSIM) berada dalam divisi yang sama (Divisi Utama).

Pertandingan derby biasanya ada anggapan bahwa tim tuan rumah harus menang, hal itu berarti membuat kecewa tim lainnya. Menurut Ibn Khaldun, konflik juga disebabkan adanya animal power dalam diri manusia. Lebih lanjut lagi, konflik juga disebabkan karena terjadinya frustasi, yakni ketika manusia tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan (Affandi, 2004: 85). Selain itu ”aroma” balas dendam juga ikut mewarnai konflik antara Slemania dan Brajamusti.

  1. Kinerja perangkat pertandingan

Sebuah pertandingan yang melibatkan dua tim derby dengan jumlah suporter yang besar membutuhkan tingkat profesional yang tinggi, khususnya aparat pertandingan. Perangkat pertandingan adalah wasit, asisten wasit, ofisial, pengawas pertandingan, inspektur wasit dan orang yang ditunjuk oleh PSSI untuk memikul tanggung jawab sehubungan dengan suatu pertandingan (PSSI, 2007: 3).

Kemenangan sebuah tim tidak sepenuhnya ditentukan oleh tim saat berlaga, tetapi terdapat faktor teknis dan non teknis didalamnya. Sportifitas dan fair play seharusnya menjadi tujuan utama dalam sebuah pertandingan, bukan hanya terfokus pada prestasi. Membayar wasit menjadi sumber bencana untuk kesebelasan yang mempunyai dana minim, sedang hal itu menjadi sumber kemenangan bagi kesebelasan yang mempunyai dana banyak. Peran wasit akhirnya menjadi tidak adil dalam memimpin jalannya pertandingan.

  1. Bentuk Konflik Slemania dan Brajamusti
  2. Lagu-lagu rasis yang tercipta saat pertandingan

Pada dasarnya merupakan lagu-lagu bagus dan tidak ada unsur provokasi, tetapi ketika sedang bertanding akhirnya berubah menjadi ”Slemania di Bunuh Saja” atau ”Brajamusti di Bunuh Saja”. Ini merupakan bentuk konflik karena pada saat bertanding, perang lagu rasis pun terjadi. Lagu-lagu rasis ini terdengar pula saat tidak ada pertandingan Derby antara Slemania dan Brajamusti. Secara teoritis, bentuk konflik diatas merupakan bentuk kontravensi. Kontravensi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian (Soekanto, 1999: 103).

  1. Konflik Fisik

Fenomena konflik antara Slemania dan Brajamusti sudah sampai tahap kronis. Penghadangan, pelemparan dan tawuran biasa terjadi didaerah perbatasan, antara lain di daerah Godean, jalan wates, dan Kulon Progo. Massa Slemania dan Brajamusti pun ada banyak disana. Seperti yang sudah dijelaskan didepan bahwa, suporter kedua belah suporter ini banyak, dan bersifat terbuka. Jalan-jalan yang dilewati antara Slemania dan Brajamusti pun juga sangat berbahaya dan rawan penghadangan, antara lain; di Jalan Janti, ring road Utara, Jalan Solo-Yogyakarta, jalan Magelang. Konflik fisik ini secara teoritis merupakan konflik kelompok secara terbuka yang menggunakan senjata. Konflik tipe ini merupakan konflik yang berbahaya.

  1. Ancaman

Ancaman-ancaman biasa terjadi pada dunia maya, khususnya di Web atau di jejaring sosial. Secara teoritis, bentuk konflik diatas merupakan bentuk kontravensi. Kontravensi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian (Soerjono Soekanto, 1999: 103).

  1. Dampak Konflik Slemania dan Brajamusti terhadap suporter
  2. Luka fisik; dalam konflik fisik memungkinkan terjadinya luka fisik. Konflik fisik ini melibatkan kelompok yang menggunakan berbagai senjata, baik batu, kayu, serta senjata tajam.
  3. Fobia, bagi anggota dan pengurus suporter, baik Slemania dan Brajamusti ada yang mengalami fobia, khususnya untuk dirijen yang mengkoordinasi lagu-lagu saat laga berlangsung. Karena ada penghadangan seperti membuat fobia tersendiri untuk suporter.
  4. Finansial; adanya korban saat sedang berlaga dan terjadi chaos terkadang membutuhkan perawatan jika itu benar-benar anggota suporter. Karena saat ini baik dari Slemania dan Brajamusti tidak ada pendanaan dari manajemen maka disiasati dengan uang pribadi untuk digunakan.
  5. Tumbuhnya solidaritas kelompok; karena ’ashobiyah para suporter, ketika keamanan kelompok terancam maka ’ashobiyah mereka muncul dan mengharuskan mereka untuk ikut membela kelompok.
  6. Akomodasi; berkembangnya konflik antara Slemania dan Brajamusti membuat para pengurus dan pihak yang terkait untuk mencari formula sebagai peredam konflik tersebut; antara lain dengan diadakannya pertemuan dan menghasilkan kesepakatan untuk tidak mengunjungi antara Slemania dan Brajamusti. Kemudian Selasa 20 April 2010 Kedaulatan Rakyat mengadakan pertemuan antara tiga suporter DIY (Slemania, Brajamusti dan Paserbumi) untuk menggabungkan ketiga suporter ini agar tercapai persepakbolaan di DIY yang maksimal. Akomodasi yang digunakan dalam konflik Slemania dan Brajamusti ini merupakan akomodasi berupa mediasi.
  1. Kajian Teoritis
  2. Kelompok Sosial

Masyarakat selalu mengalami perubahan sosial pada nilai dan strukturnya, baik secara evolusioner maupun revolusioner serta disengaja atau tidak disengaja. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh gerakan-gerakan sosial dari individu-individu dan kelompok-kelompok sosial yang menjadi bagian dari masyarakat tersebut. Secara konseptual maka individu-individu dan kelompok-kelompok merupakan aspek penting yang harus diperhatikan dalam proses perubahan.

Masyarakat dengan multikulturalisme yang kental, memungkinkan terciptanya kelompok sosial didalamnya. Multikulturalisme itu muncul diberbagai bidang, dibidang sosial terdapat multikulturalisme kepentingan. Munculnya Slemania dan Brajamusti merupakan fenomena yang muncul karena proses perubahan struktur dalam sistem sosialnya. Slemania dan Brajamusti merupakan dua kelompok sosial yang muncul karena adanya faktor kepentingan yang sama, dengan kata lain Slemania dan Brajamusti merupakan satu-kesatuan keinginan atau motivasi dari berbagai individu (suporter).

Secara konseptual, jika melihat sejarah lahirnya kelompok Slemania dan Brajamusti, kelompok ini lahir karena adanya kepentingan yang sama diantara suporter, dalam bahasa sosiologi sering disebut dengan sosiasi. Sosiasi adalah bentuk (dinyatakan dalam berbagai cara yang begitu banyak) para individu tumbuh bersama ke dalam kesatuan dan di dalam kepentingan-kepentingan mereka yang terealisasi (Susan, 2010: 47). Penafsiran dalam fenomena suporter dapat dikatakan sebagai berikut; bahwa Slemania (PSS) dan Brajamusti (PSIM) merupakan kumpulan individu-individu yang mempunyai motivasi dan keinginan yang sama, yakni untuk mendukung kesebelasan PSS ataupun PSIM.

  1. Slemania dan Brajamusti dalam Perspektif Konflik

Konflik secara sosiologis adalah suatu proses antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak yang lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik dalam definitif lain adalah perseteruan  atas nilai atau klaim status, kekuasaan, dan sumber daya yang langka, dimana tujuan dari pihak yang berkonflik bukan hanya mendapatkan apa-apa yang diinginkannya tetapi juga menetralkan, melukai atau menghilangkan rivalnya (Outwaite, 2008: 142).

Fenomena konflik antara Slemania dan Brajamusti memang sudah “kronis” dalam artian sudah membahayakan. Konflik destruktif ini terlihat ketika pertandingan antara PSS dan PSIM sedang berlangsng sering terjadi bentrokan antara kedua belah suporter. Tercatat sudah 3 (tiga) kali tatap muka antara PSS dan PSIM terjadi bentrok disetiap tatap mukanya. Bentuk konfliknya pun beragam, mulai dari konflik iyel-iyel (lagu-lagu), bentrok fisik dan ancaman-ancaman.

Perseteruan PSS dan PSIM dalam kompetisi mempengaruhi terjadinya konflik antara Slemania dan Brajamusti, keran kedua belah suporter ini adalah suporter PSS dan PSIM. Klaim siapa yang terhebat sering kali terjadi, hingga saling ejek antar suporter pun tidak dapat dihindari. Felling hostility pun berlahan merasuki para suporter, hingga tercipta saling benci antara kedua belah suporter. Penghadangan, pelemparan dengan batu, senjata tajam sempat terjadi di daerah-daerah rawan konflik suporter. Korbanpun mau tidak mau tetap harus terjadi, karena satu sama lain sama-sama saling menjatuhkan dan meniadakan seperti teori di atas.

  1. Slemania dan Brajamusti dalam Perspektif konflik fungsional
  • Ibn khaldun

Menurut Ibn Khaldun watak psikologis manusia merupakan suatu faktor yang penting untuk diperhitungkan dalam fenomena konflik. Manusia pada dasarnya mempunyai sifat agresif di dalam dirinya. Potensi ini muncul karena adanya pengaruh animal power dalam dirinya. Karena potensi inilah manusia juga dikenal sebagai rational animal. Potensi lain yang ada di dalam diri manusia adalah potensi akan cinta dengan kelompoknya. Ketika manusia hidup bersama-sama dalam suatu kelompok maka fitrah ini mendorong terbentuknya ‘ashobiyah. ‘asohobiyah adalah semangat golongan (Munawwir, 1997: 936).

Slemania dan Brajamusti merupakan suporter yang memiliki loyalitas terhadap kesebelasan yang mereka dukung (PSS dan PSIM). Slemania dan Brajamusti terbentuk Karena kecintaan mereka terhadap kesebalasan mereka, jadi tidak heran jika mereka mempunyai ’ashobiyah terhadap kesebelasannya. “Ashobiyah yang tercipta dalam kelompok Slemania dan Brajamusti adalah jenis ‘ashobiyah kekerabatan dan keturunan. Mereka menganggap para suporter adalah saudara.

Manusia tidak akan rela jika salah satu anggota kelompoknya terhinakan dan dengan segala daya upaya akan membela dan mengembalikan kehormatan kelompok mereka. Ada perbedaan rasa integrastif ini, jika dimasyarakat primitif (nomad) faktor pengikatnya adalah pertalian darah atau garis keturunan, sedangkan dalam masyarakat menetap atau modern yang ikatan darahnya sudah tidak murni satu suku lagi maka ikatannya didasarkan atas kepentingan-kepentingan anggota kelompok maupun secara imaginer menjadi kepentingan kelompok (Affandi, 2004: 107).

Saat konflik terjadi antara Slemania dan Brajamusti, terkadang korban tercipta. Hal ini mengakibatkan kehormatan suporter yang diserang akan terasa tidak dihargai, akhirnya aka nada aksi balas dendam diantara keduanya. Jika ini dibiarkan saja maka konflik antara kedua belah kubu tidak aka nada habisnya. Apalagi dengan di bumbuhi oleh kepentingan-kepentingan yang tidak jelas dari provokator, maka semakin menjadi konflik Slemania dan Brajamusti.

Potensi lainya adalah agresi, manusia sejak awal memiliki watak agresif sebagai akibat adanya animal power dalam dirinya yang mendorong untuk melakukan kekerasan serta penganiayaan (Fromm, 2010:263). Agresivitas ini bisa berakibat terjadinya pertumpahan darah dan permusuhan. Agresivitas tersebut kemudian menjadi pemicu terjadinya konflik. Agrsivitas dalam suporter terlihat manakala terjadi aksi anarkis suporter. Tetapi, aksi anarkis suporter tidak sepenuhnya semata-mata karena suporter itu sendiri, melainkan karena adanya tindak kecurangan yang dilakukan oleh aparat pertandingan ataupun karena faktor kebencian mereka terhadap suporter rival.

  • George Simmel dan Coser

Simmel memandang konflik sebagai gejala yang tidak mungkin dihindari dalam masyarakat. Struktur sosial dilihatnya sebagai gejala yang mencakup berbagai proses asosiatif dan disasosiatif yang tidak mungkin dipisah-pisahkan, namun dapat dibedakan dalam analisa. Konflik dapat menjadi penyebab serta pengubah kepentingan-kepentingan kelompok-kelompok. Kenyataanya, faktor-faktor disasosiatif seperti kebencian, kecemburuan dan lain sebagainya, memang merupakan penyebab terjadinya konflik. Dengan demikian, konflik ada untuk mengatasi berbagai dualisme yang berbeda, walaupun dengan cara meniadakan salah satu pihak yang bersaing (Affandi, 2005: 136).

Konflik Slemania dan Brajamusti memang seharusnya terjadi jika menurut Simmel, karena dengan konflik berarti mengidentifikasikan ada sesuatu yang lemah dalam struktur sosial mereka. Konflik yang asosiatif terjadi manakala terjadi adu kreatifitas antara kedua belah pihak, tetapi lain hal nya jika disasosiatif terjadi disampingnya. Disasosiatif ini melahirkan benturan fisik antara kedua belah suporter, yang tidak jarang juka melahirkan korban-korban konflik. Diasosiatif ini juga melahirkan kebencian dalam diri suporter terhadap suporter rival. Kebencian mereka terlihat manakala terdapat tulisan-tulisan bernada provokatif di jalan-jalan (vandalism) dan terlihat pula saat iyel-iyel rasis dikumandangkan dalam pertandingan.

Selain itu, sisi fungsional dalam konflik ini juga bahas oleh Simmel, yakni dengan adanya konflik, maka akan terjadi perubahan secara intern struktur dari Slemania ataupun Brajamusti, yakni dengan adanya kebijakan untuk mengatur tulisan-tulisan pada kaos. Tidak dipungkiri hal ini terjadi pula dalam fenomena konflik Slemania dan Brajamusti. Simmel juga berpendapat bahwa, konflik dapat melahirkan batas-batas antar kelompok dengan memperkuat kesadaran intern. Semakin berbedanya kedua kelompok ini dan dipisahkannya keduanya melahirkan resiprokal antagonism, yakni permusuhan yang timbal balik.

Pokok bahasan yang sama, Coser membahas bahwa klasifikasi konflik antara konflik fungsional dan disfungsional. Konflik bisa memberi kontribusi pada kebaikan (fungsional), kalau tidak mempertanyakan dasar-dasar hubungan atau menyangkut substansi perbedaan potensi konflik. Sedang konflik disfungsional akan terjadi bila konflik sosial menyerang pada nilai-nilai inti substansial perbedaan hubungan sosial yang secara alamiah potensi menjadi pemicu konflik. Conclutional, Konflik dalam perspektif sosiologis terutama yang dibawa oleh Coser menegaskan bahwa ketegangan sosial yang berujung pada konflik dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu konflik yang bersifat fungsional (baik) dan konflik yang bersifat disfungsional (buruk) bagi hubungan-hubungan dan struktur-struktur sosial. (Farchan dan Syarifuddin, 2005: 14).

  1. Kesimpulan

Konflik antara kedua suporter ini terjadi sejak tahun 2001. Konflik dari kedua organisasi ini sudah mengkhawatirkan, dalam bahasa lain kronis. Konflik kedua belah pihak ini bukan hanya terjadi di dunia nyata, tetapi terjadi pula di dunia maya (Internet). Saling ejek dan mengamcam menjadi pilihan dari beberapa suporter untuk mengintervensi suporter lawan. Kemudian, vandalisme juga menjadi media mereka dalam berkonflik, terlihat banyak sekali tulisan-tulisan yang menggambarkan konflik antara Slemania dan Brajamusti. Lagu-lagu, kaos juga mejadi media mereka. Konflik destruktif pun kerap kali terjadi dalam hubungan mereka. Faktor Penyebab Konflik Slemania dan Brajamusti antara lain:

  1. Provokator dalam Suporter
  2. Strata Tim
  3. Derby Yogyakarta
  4. Kinerja perangkat pertandingan

Bentuk Konfliknya meliputi

  1. Lagu-lagu rasis yang tercipta saat pertandingan
  2. Bentrok fisik;
  3. Ancaman

Dampak Konflik

  1. Luka fisik
  2. Fobia
  3. Finansial
  4. Tumbuhnya solidaritas kelompok
  5. Akomodasi

Daftar Pustaka

Ahmad Warson Munawwir. 1997. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia.   Yogyakarta: Pustaka Progresif.

Anung Handoko. 2007. Sepakbola Tanpa Batas. Yogyakarta: Kanisius

Barbara Krahe. 2005. Buku Pedoman Psikologi Sosial. Perilaku Agresif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Benard Roha. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi pustaka Publisher.

Bungin, Burhan. 2007. Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana.

Bungin, Burhan. 2008. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada.

Fromm, Erich. 2010. Akar Kekerasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gulo W. 2002. Metode Penelitian. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Hakimul Ikhwan Affandi. 2004. Akar Konflik Sepanjang Zaman, Elaborasi Pemikiran Ibn Khaldun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hamdan Farchan dan Syamsuddin. 2005. Titik Tengkar Pesantren. Yogyakarta: Pilar Religia.

Ismail Yakub. 1982. Muqaddimah Ibnu Khaldun. Jakarta: Faizan.

Kartini Kartono. 2007. Patologi Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Lexy, J. Moleong. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Outwaite, William. 2008. Ensiklopedi Pemikiran Sosial Modern. Jakarta: Kencana Prenada Media group.

Poloma, Margaret M. 2007. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. 2009. Teori Sosiologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Ritzer, George dan Goodman, Douglas J.  2010. Teori Sosiologi, dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Soerjono Soekanto. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Soerjono Soekanto  dan Ratih Lestarini. 1988.  Fungsionalisme dan Teori Konflik dalam Perkembangan Sosiologi. Jakarta: Sinar Grafika.

Soleman B Taneko. 1984. Struktur dan Proses Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.

Sri Rumini. dkk. 1993. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UPP, Universitas Negeri Yogyakarta.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & R & D. Bandung: Alfabeta.

Sujamto, 1988. Daerah Istimewa dalam Negara Republik Indonesia. Jakarta: Bina Aksara.

Suseno-Franz Magnis. 2003. Pemikiran Karl Marx, Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Timur, Mahardika. 2000. Gerakan Massa, Mengupayakan demokrasi dan Keadilan Secara Damai. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama.

Triton PB. 2007. Managemen Sumber Daya Manusia, Perspektif Partner dan Kolektivitas. Yogyakarta: Tugu Publisher.

Zaibal Al-Khudhairi, Penerjemah Ahmad Rofi’ Ustmani. 1979.  Filsafat Sejarah Ibn Khaldun (Falsafah Al-tarikh ‘inda Ibn Khaldun). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Zeitlin, Irving M. 1998. Memahami Kembali Sosiologi, Kritik Terhadap Teori Sosiologi Kontemporer. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

 

Internet

http://www.slemania.or.id/. Diakses pada hari Minggu, 13 Februari 2011.

www.pemda-diy.go.id, diakses pada 10 Maret 2011, pukul 19.00 WIB.

Media Massa

Gunung Kidul. Senin Pahing, 19 April 2010.

Kedaulatan Rakyat. Rabu Wage, 21 April 2010.

Revolusi Mesir. Kabar Malam. TV One. Jum’at, 4 Februari 2011.

Topik Pagi, ANTV.

Jurnal dan Buletin

Buletin Siaran Pemerintah Provinsi DIY. 2008. Jejak Langkah Gebernur D.I Yogyakarta. Hamengku Buwono x. Yogyakarta. Badan Informasi Daerah Provinsi DIY.

Dewan Kebudayaan Kota. 2005. Jurnal Pawon, Mengolah Potensi Menyajikan Inspirasi. Jogja Kota yang Hilang. Yogyakarta. Navila Group.

Universitas Gadjah Mada. 2008. Monograph on Politics & Government. Keistimewaan Yogyakarta, Naskah Akademik dan Rancangan Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta. Yogyakarta. Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM dan Program S2 Politik Lokal dan Otonomi Daerah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s